6 Faktor Penting Budidaya Ikan Lele Yang Baik

6 Faktor Penting Budidaya Ikan Lele Yang Baik

Budidaya Ikan Lele

Ikan lele adalah salah satu tipe ikan yang mampu hidup dalam kepadatan tinggi. Ikan ini memiliki tingkat konversi pakan menjadi beban tubuh yang bagus. Dengan sifat seperti ini, budidaya lele akan amat menguntungkan apabila dijalankan secara intensif.

Terdapat dua segmen usaha budidaya lele, adalah segmen pembibitan dan segmen pembesaran. Segmen pembibitan bertujuan untuk menghasilkan bibit lele, sedangkan segmen pembesaran bertujuan untuk menghasilkan lele siap konsumsi. Pada peluang kali ini Calang akan membahas tahap-tahap persiapan budidaya lele segmen pembesaran.

1. Penyiapan Kolam Tempat Budidaya Ikan Lele

Ada berbagai jenis kolam yang bisa diaplikasikan untuk tempat budi daya ikan lele. Tiap-tiap jenis kolam memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing sekiranya ditinjau dari segi usaha budidaya. Untuk mempertimbangkan kolam apa yang sesuai, harap pertimbangkan kondisi lingkungan, ketersediaan energi kerja, dan sumber daya alam.

Jenis-jenis kolam yang umum dipakai adalah budidaya ikan lele di kolam terpal, kolam tanah, kolam semen, jaring apung dan keramba. Tetapi dalam artikel ini kita akan membahas kolam tanah, mengingat tipe kolam ini paling banyak dipakai oleh para peternak ikan.

Level yang sepatutnya dilaksanakan dalam menyiapkan kolam tanah ialah sebagai berikut:

Pengeringan dan Pengolahan Tanah

Sebelum bibit lele ditebarkan, kolam harus dikeringkan telebih dulu. Lama pegeringan berkisar 3-7 hari atau bertumpu pada teriknya sinar matahari. Sebagai tolok ukur, apabila permukaan tanah telah retak-retak, kolam bisa dianggap telah cukup kering.

Pengeringan kolam bertujuan untuk memutus keberadaan mikroorganisme jahat yang menyebabkan bibit penyakit. Mikroorganisme tersebut bisa bekembang dari periode budidaya lele sebelumnya. Dengan pengeringan dan penjemuran, sebagian besar mikroorganisme patogen akan mati.

Setelah dikeringkan, permukaan tanah dibajak atau dibalik dengan cangkul. Pembajakan tanah dibutuhkan untuk membetuli kegemburan tanah dan membuang gas berbahaya yang tertimbun di dalam tanah. Berbarengan dengan progres pembajakan, angkat lapisan lumpur hitam yang terdapat di dasar kolam.

Lumpur hal yang demikian umumnya beraroma busuk sebab mengandung gas-gas berbahaya seperti amonia dan hidrogen sulfida. Gas-gas itu terbentuk dari tumpukan sisa pakan yang tidak dimakan ikan.

Pengapuran dan Pemupukan

Pengapuran berfungsi untuk menyeimbangkan keasaman kolam dan menolong memberantas mikroorganisme patogen. Tipe kapur yang diterapkan merupakan dolomit atau kapur tohor. Pengapuran dilakukan dengan sistem ditebar secara merata di permukaan dasar kolam.

Setelah ditebari kapur, balik tanah agar kapur mengabsorpsi ke bagian dalam. Dosis yang dibutuhkan untuk pengapuran adalah 250-750 gram per meter persegi, atau tergantung pada derajat keasaman tanah. Semakin tinggi tingkat keasaman tanah, semakin banyak kapur yang diperlukan.

Langkah selanjutnya ialah pemupukan. Gunakan paduan pupuk organik ditambah urea dan TSP. Tipe pupuk organik yang direkomendasikan ialah pupuk kandang atau pupuk kompos. Dosisnya sebanyak 250-500 gram per meter persegi.

Walaupun pupuk kimianya adalah urea dan TSP masing-masing 15 gram dan 10 gram per meter persegi. Pemupukan dasar kolam bertujuan untuk menyediakan gizi bagi biota air seperti fitoplankton dan cacing. Biota tersebut berkhasiat untuk makanan alami lele.

Pengendalian Air Kolam

Ketinggian air yang ideal untuk budidaya ikan lele yaitu 100-120 cm. Pengisian kolam dilaksanakan secara berjenjang. Sesudah kolam dipupuk, isi dengan air sampai batas 30-40 cm. Biarkan kolam tersinari matahari selama satu minggu.

Dengan kedalaman seperti itu, cahaya sang surya masih dapat tembus sampai dasar kolam dan memungkinkan biota dasar kolam seperti fitoplankton tumbuh dengan baik. Air kolam yang telah ditumbuhi fitoplankton berwarna kehijauan.

Setelah satu pekan, benih lele siap ditebar. Selanjutnya, air kolam ditambah secara terstruktur sesuai dengan pertumbuhan lele hingga pada ketinggian tepat.

2. Pemilihan Benih Lele

Tingkat kesuksesan budidaya ikan lele sangat ditetapkan oleh kwalitas benih yang ditebar. Ada beberapa tipe lele yang umum dibudidayakan di Indonesia.

Kami memberi rekomendasi variasi lele Sangkuriang yang dioptimalkan BBPBAT Sukabumi. Ikan lele sangkuriang adalah hasil pembenaran dari lele dumbo. BBPBAT memaksimalkan lele sangkuriang sebab mutu lele dumbo yang ketika ini beredar di masyarakat kian menurun dari waktu ke waktu. Bibit lele dapat kita peroleh dengan cara membeli atau menjalankan pembibitan lele sendiri.

Syarat Benih Unggul

Benih yang ditebar seharusnya benih yang benar-benar sehat. Ciri-ciri ikan lele (benih) yang sehat gerakannya lincah, tak terdapat cacat atau luka dipermukaan tubuhnya, bebas dari bibit penyakit dan gerakan renangnya normal.

Untuk menguji gerakannya, tempatkan ikan pada arus air. Bila ikan hal yang demikian menantang arah arus air dan bisa bertahan berarti gerakan renangnya bagus. Ukuran bibit untuk budidaya lele biasanya mempunyai panjang sekitar 5-7 cm.

Usahakan ukurannya rata agar ikan dapat tumbuh dan berkembang serempak. Dari bibit sebesar itu, dalam rentang waktu pemeliharaan 2,5-3,5 bulan akan diperoleh lele ukuran konsumsi sebesar 9-12 ekor per kilogram.

Sistem Menebar Bibit

Sebelum benih ditebar, lakukan penyesuaian iklim secara khusus dulu. Caranya, masukan bibit dengan wadahnya (ember/jeriken) ke dalam kolam. Biarkan selama 15 menit supaya terjadi penyesuaian temperatur tempat benih dengan temperatur kolam sebagai lingkungan barunya.

Miringkan wadah dan biarkan bibit keluar dengan sendirinya. Metode ini berkhasiat mencegah stres pada bibit. Tebarkan bibit lele ke dalam kolam dengan kepadatan 200-400 ekor per meter persegi. Semakin baik mutu air kolam, semakin tinggi jumlah benih yang dapat ditampung.

Hendaknya tinggi air tidak lebih dari 40 cm dikala bibit ditebar. Menetapkan ini menjaga agar benih ikan bisa menjangkau permukaan air untuk mengambil pakan atau bernafas. Pengisian kolam berikutnya disesuaikan dengan ukuran tubuh ikan sampai menempuh ketinggian air yang tepat.

Maka Kapasitas Kolam

Berikut ini sistem menghitung kapasitas kolam untuk budidaya lele secara intensif. Asumsi kedalaman kolam 1-1,5 meter (kedalaman yang dianjurkan). Tingkat kepadatan tebar bibit lele yang disarankan umumnya 200-400 ekor per meter persegi. Rekomendasi, untuk kolam berukuran 3 x 4 meter karenanya jumlah benih ikannya minimal (3×4) x 200 = 2400 ekor, optimal (3×4) x 400 = 4800 ekor.

Catatan: kolam tanah kapaistasnya lebih sedikit dari kolam tembok.

3. Pakan Untuk Budidaya Ikan Lele

pakan lele menurut umurnya dengan asumsi bibit 1000 tersaji dalam Tabel berikut :

Pakan yaitu komponen tarif terbesar dalam budidaya lele. Ada banyak sekali merek dan tipe pakan di pasaran. Pakan lele yang bagus ialah pakan yang menawarkan Food Convertion Ratio (FCR) lebih kecil dari satu. FCR yaitu rasio jumlah pakan berbanding pertumbuhan daging.

Semakin kecil skor FCR, semakin bagus mutu pakan. Untuk menempuh hasil maksimal dengan biaya yang minimal, terapkan pemberian pakan utama dan pakan tambahan secara setara. Jika pakan pabrik terasa mahal, silahkan mencoba untuk membuat pakan lele sendiri.

Pemberian Pakan Utama

Sebagai ikan karnivora, pakan protein ikan lele harus banyak mengandung protein hewani. Secara lazim kandungan nutrisi yang dibutuhkan lele adalah protein (minimal 30%), lemak (4-16%), karbohidrat (15-20%), vitamin dan mineral. Berbagai pelet yang dipasarkan dipasaran rata-rata telah dilengkapi dengan keterangan kandungan gizi.

Tinggal kita mahir-pandai memilih mana yang bisa diandalkan. Ingat, jangan sampai membeli pakan kadaluarsa. Pakan seharusnya diberi pantas dengan kebutuhan. Secara biasa tiap harinya lele memerlukan pakan 3-6% dari bobot tubuhnya. Umpamanya, lele dengan beban 50 gram memerlukan pakan sebanyak 2,5 gram (5% bobot tubuh) per ekor.

Kemudian tiap-tiap 10 hari ambil samplingnya, lalu timbang dan sesuaikan lagi jumlah pakan yang diberikan. Dua pekan memasuki panen, prosentase pemberian pakan dikurangi menjadi 3% dari bobot tubuh. Jadwal pemberian pakan sebaiknya disesuaikan dengan nafsu makan ikan.

Frekuensinya 4-5 kali sehari. Frekuensi pemberian makan ikan lele yang masih kecil seharusnya lebih sering. Waktu pemberian pakan bisa pagi, siang, petang dan malam hari. Lele merupakan hewan nokturnal, aktif pada malam hari. Pertimbangkan pemberian pakan lebih banyak pada petang dan malam hari.

Si pemberi pakan mesti jeli mengamati respon ikan. Berikan pakan ketika lele agresif menyantap pakan dan stop jika ikan telah tampak malas untuk menyantapnya.

Pemberian Pakan Tambahan

Pemberian pakan tambahan benar-benar membantu menghemat tarif pengeluaran pakan yang menguras kantong. Seandainya kolam kita dekat dengan pelelangan ikan, dapat dipertimbangkan pemberian ikan rucah segar. Ikan rucah merupakan hasil ikan tangkapan dari laut yang tidak cocok dikonsumsi manusia karena ukuran atau cacat dalam penangkapannya.

Dapat juga dengan membikin belatung dari campuran ampas tahu. Keong mas dan limbah ayam dapat dikasih dengan pengolahan lebih-lebih dulu. Pengolahannya dapat dikerjakan dengan perebusan. Kemudian pisahkan daging keong mas dengan cangkangnya, lalu dicincang. Untuk limbah ayam bersihkan bulu-bulunya sebelum diumpankan pada lele.

4. Pengelolaan Air

Hal penting lain dalam budidaya ikan lele ialah pengelolaan air kolam. Untuk mendapatkan hasil optimal kwalitas dan kuantitas air wajib tetap terjaga. Awasi kualitas air dari timbunan sisa pakan yang tak habis di dasar kolam.

Timbunan tersebut akan menimbulkan gas amonia atau hidrogen sulfida yang dicirikan dengan adanya bau busuk. Apabila sudah muncul bau busuk, buang sepertiga air bagian bawah kemudian isi lagi dengan air baru.

5. Penguasaan Hama dan Penyakit

Hama yang paling lazim dalam budidaya ikan lele antara lain hama predator seperti linsang, ular, sero, musang air dan burung. Walaupun hama yang menjadi pesaing antara lain ikan mujair. Untuk mencegahnya merupakan dengan memasang filter pada jalan masuk dan keluar air atau memasang pagar di sekeliling kolam.

Penyakit pada budidaya lele bisa datang dari protozoa, bakteri dan virus. Ketiga mikroorganisme ini menyebabkan beraneka penyakit yang mematikan. Sebagian diantaranya merupakan bintik putih, kembung perut dan luka di kepala dan ekor. Untuk mencegah timbulnya penyakit infeksi yaitu dengan menjaga kualitas air, mengontrol kelebihan pakan, menjaga kebersihan kolam, dan mempertahankan suhu kolam pada kisaran 28C.

Kecuali penyakit infeksi, lele juga dapat terserang penyakit non-infeksi seperti kuning, kekurangan vitamin dan lain-lain. Untuk mengenal lebih jauh tentang pengaturan penyakit silahkan baca pembatasan hama dan penyakit lele.

6. Panen Budidaya Ikan Lele

Ikan lele dapat dipanen setelah mencapai ukuran 9-12 ekor per kg. Ukuran sebesar itu dapat dicapai dalam tempo 2,5-3,5 bulan dari bibit berukuran 5-7 cm. Berbeda dengan konsumsi dalam negeri, lele untuk tujuan ekspor biasanya mencapai ukuran 500 gram per ekor.

Satu hari (24 jam) sebelum panen, sebaiknya lele tidak dikasih pakan agar tak membuang kotoran ketika diangkut. Pada saat lele dipanen lakukan sortasi untuk misahkan lele berdasarkan ukurannya sebab ini akan meningkatkan pendapatan bagi peternak.